SWARA PENDIDIKAN.CO.ID (Sawangan, Depok) – Menjadi seorang ahli masak merupakan cita-cita Diki sejak lulus SMP. Karena itu setelah lulus tahun 2011, Diki mencoba melanjutkan ke Sekolah Menengah Kejuruan, jurusan jasa boga. Namun, karena ketiadaan dana untuk melanjutkan ke SMK Swasta dan kurangnya informasi sekolah Negeri yang memiliki jurusan jasa boga, terpaksa Diki memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah.
Diki Adi Putra yang lahir di Bogor, 21 silam atau tepatnya 29 September 1995 merupakan dianak ke enam dari tujuh bersaudara, dari pasangan bapak Sainan (57 tahun) dan ibu Dawiyah (54 tahun).

Bapaknya hanyalah seorang petani penggarap lahan kosong milik orang lain yang penghasilan hanya Rp. 500.000,- per bulan. Sedangkan ibunya seorang ibu rumah tangga biasa yang hanya lulusan SD. Sementara untuk menopang kebutuhan hidup sehari-hari, kakak Diki yang no 4 dan 5 lah yang bekerja di pabrik pembuatan mesin pupuk ikut membantu meringankan biaya hidup keluarga. Karena Kakak yang no. 1 dan 2 sudah berkeluarga dan tinggal terpisah.

Baru pada tahun 2012, ketika mendengar informasi ada sekolah Negeri yang memiliki jurusan jasa boga, yang lokasinya tidak jauh dari tempat tinggalnya di Cinangka Sawangan, yaitu di SMKN 2 Sawangan, Depok Diki pun mendaftarkan diri sebagai calon siswa baru melalui jalur siswa miskin. Mimpinya untuk menjadi chef handal yang selama ini di idam-idamkan Diki nampaknya bakal terwujud. Begitulah yang ada dibenak anak petani miskin tersebut.

Selama di SMKN 2, dia lahap semua mata pelajaran tentang jasa boga termasuk termasuk porsi praktikumnya. Anak petani miskin itupun menjadi salah satu siswa andalan di bidang jasa boga seangkatannya.

Diki juga tahu bahwa sekolahnya sejak 2014, Bursa Kerja Khusus (BKK) SMKN 2 Kota Depok telah menjalin kerjasama dengan PT. JIAEC (Japan Indonesian Economic Center) untuk merekrut para siswa magang di Jepang.

Karena itu setelah lulus tahun 2015, Diki tak menyia-nyiakan kesempatan dan ikut seleksi. Saat itu Diki harus bersaing dengan 72 orang siswa yang juga sama-sama ingin meraih mimpi. Semua mengikuti tes. Diawali dari berat badan, tinggi badan, dan buta warna. Dilanjut tes tahap dua, psikotes dan tes wawancara. Dari 72 orang siswa, tersaring 18 orang siswa yang dinyatakan lulus. Salah satunya adalah Diki Adi Saputra.

Tanggal 22 April 2015, Diki kembali dipanggil untuk melakukan medical chek up dan hasilnya dinyatakan sehat dan FIT. Begitupun saat wawancara dengan perusahaan Jepang, juga lulus. Selanjutnya dia akan mengikuti pelatihan dan pendidikan tahap 1 dan 2 di Yogya maupun di Depok.

NYARIS GAGAL

Tanggal 27 April 2015, Diki harus berangkat ke yogya untuk mengikuti pelatihan tahap 1 selama 2 bulan di Yogya. Dan selama mengikuti proses pelatihan nanti, seluruh biaya akomodasi, transportasi, dan konsumsi ditanggung pribadi. Karena tidak memiliki uang, hampir saja Diki membatalkan niatnya, namun Demi mewujudkan mimpi anaknya, orangtuanya terpaksa mencari pinjaman kesana-kemari. Akhirnya terkumpullah Rp. 1.500.000,- untuk bekal selama dua bulan di Yogya.

Malang tak dapat ditolak, kereta yang ditumpanginya dari Depok ke stasiun Gambir mengalami penundaan, sementara kereta ke Yogya sudah berangkat. Segera Diki mengabari kepada ibu Sri Maisaroh (ketua BKK SMKN 2 Kota Depok) dan langsung menghubungi pihak PT. JIAEC. Atas pertimbangan beberapa hal, dan kebaikan Pak Tenten (Manager HRD PT. JIAEC) akhirnya pelatihan untuk Diki dijadwalkan ulang.

Pada 23 Juni 2015 Diki dikabari untuk mengikuti pelatihan. Beruntungnya lokasi tempat pelatihan itu di Depok. Selesai pelatihan tahap 1 dan 2 selama dua bulan, tanggal 15 November 2015, anak petani miskin itupun akhirnya berangkat ke Negeri Sakura, Jepang.

Sebelum berangkat ke Jepang, pada Senin (14/11/ 2015) pagi, Diki berpamitan kepada Kepala SMK Negeri 2, Bapak Tatang Komarudin, S.Pd,MM dan seluruh dewan guru. Usai pelaksanaan upacara, Diki juga menyempatkan berbicara di depan adik-adik kelasnya memberikan motivasi kepada mereka mengenai program magang di Jepang.

DITEMPATKAN DI PERUSAHAAN MIYAZAKI SUNFOODS

DI Jepang, Diki ditempatkan di perusahaan Miyazaki Sunfoods yang bergerak dibidang pengelolaan ayam (fillet ayam) beralamat di Miyazaki Ken Koyugon Shintomicho Oaaza Nyutta.

Oleh perusahaan Miyazaki Sunfoods, Diki juga disediakan rumah tinggal yang berisi 3 orang yang juga bekerja diperusahaan yang sama. 15 menit dengan berkendara sepeda kelokasi tempat Diki bekerja. Sudah 5 bulan lebih Diki bekerja di Jepang.

Diki juga selalu mengabarkan kondisinya disana dan setiap bulan mengirimkan uang untuk membantu meringankan beban kedua orang tuanya, terutama untuk membiayai adiknya yang saat ini kelas XII disalah satu SMK swasta di Depok.

Inilah sekelumit kisah sukses orang Depok asli yang yang merantau ke negeri Sakura yang menginspirasi di lingkungan rumahnya, kini banyak juga anak remaja se usianya yang ingin mengemban ilmu di SMKN 2 Kota Depok karena mereka ingin pergi ke Jepang.

Kisah Diki, Anak petani miskin ini membuktikan bahwa dengan tekad yang kuat, selalu berusaha dan berdoa maka kita akan dapat meraih impian yang kita cita-citakan. Dan ia pun telah membuktikan bahwa uang bukanlah kendala, semua itu tergantung dari semangat dan daya juang kita sendiri untuk meraih cita-cita. Salam SUKSES.

Sumber : swarapendidikan.co.id