Usman (Extrainee PT JIAEC)
Usman, merupakan eks trainee PT JIAEC yang sekarang sukses berkarir di Indonesia. Ia kini menjabat sebagai Manajer Produksi di salah satu perusahaan manufaktur Jepang yang berlokasi di Cikarang. Melalui artikel ini, Usman berbagi beberapa tips yang menurutnya dapat diterapkan baik untuk Jisshuu maupun eks jisshuu. Tips tersebut ia bagi menjadi dua fase.
Fase 1: Pengembangan Diri (saat masa Jisshuu)
“Ketika jisshuu yang perlu kita tanamkan pada diri kita adalah tujuan yg dulu kita ucap dan bahkan hafalkan, yakni ‘keinginan untuk belajar’ baik terhadap budaya ataupun teknologi yang ada di jepang. Tujuannya sudah pasti untuk skill up diri kita. Baik itu untuk skill up di bidang bahasa, cara kerja, maupun cara berfikir pekerja Jepang. Contohnya, ketika ada masalah atau defect pada produk, orang Jepang akan lebih fokus kepada problem solving, bukan siapa yang telah membuat defect. Berbeda dengan kita yang lebih mengutamakan punishment, dari situlah kita dituntut untuk merubah cara berfikir supaya lebih kreatif dan inovatif.
Oleh karena itu, diharapkan kawan-kawan jisshuu harus merubah mindset atau cara berfikir mereka untuk tidak menjadikan okane atau uang sebagai tujuan utama, tapi justru pengembangan diri lah yang harus diprioritaskan untuk masa depan,” Ungkapnya.
Fase 2: Pembuktian Diri (saat kembali ke Indonesia)
Menurut Usman, beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk dapat berkarir pada perusahaan Jepang yang ada di Indonesia. Yaitu:
- Jangan berfikir bahwa value kita lebih tinggi dibanding yang lain, karena jika kita berfikir seperti itu biasanya kita menuntut hal-hal yang diluar standar perusahaan di Indonesia, dan biasanya akan terus mencari perbandingan ke perusahan-perusahaan lain. Alhasil, kita tidak bisa fokus pada karir yang tertentu karena langkah awal untuk bisa maju dan berkembang adalah fokus.
- Jangan cepat puas. Ketika kita sudah bisa fokus, maka kita harus bisa kembali mengembangkan diri kita dan menerapkan hal-hal yang kita pelajari saat fase 1. Jangan sampai diri kita merasa cukup dengan ilmu.
- Menjadi key man diperusahaan. Untuk bisa menjadi key man hal pertama tentunya kembali lagi kepada skill dan cara berfikir. Cara berfikir kita dibanding orang Jepang menurut saya masih terdapat gap yg lumayan signifikan. Misalnya, orang Jepang di Perusahaan Indonesia tidak suka menyianyiakan jam kerja sekalipun jabatannya BOD/Vice President. Berbeda dengan orang Indonesia yang terkadang masih suka menyepelekan jam kerja. Artinya mau bagaimanapun level/jabatan kita nanti,kita harus tetap sama dalam hal tanggung jawab.
Sebagai penutup, Usman mengutip kalimat inspiratif dari Robert Kiyosaki,
"Work to learn, don't work for money"
Artinya bekerjalah untuk belajar, jangan bekerja untuk uang.
Disadur oleh: Ririe Lovina Putri
Narasumber: Usman