Irene Elice Arfen
Magang di Jepang jadi salah satu pengalaman paling berharga dalam hidup saya. Banyak cerita suka dan duka yang saya alami, terutama karena saya ditempatkan di bagian die casting dengan suhu kerja yang panas. Tantangannya terasa lebih berat saat musim panas karena ada risiko netsucho (heatstroke). Di awal juga cukup menantang karena harus beradaptasi dengan lingkungan kerja sekaligus meningkatkan kemampuan bahasa Jepang, terutama kaiwa.
Di balik itu, banyak hal yang membuat pengalaman ini berkesan. Saya menikmati lingkungan Jepang yang bersih dan tertib. Tinggal di daerah pedesaan juga memberi kesempatan merasakan langsung pergantian musim. Momen yang paling saya ingat adalah saat musim sakura, ketika saya menghabiskan akhir pekan duduk santai di bawah pohon sakura, ditemani suara air dari air terjun kecil dan pemandangan gunung, rasanya tenang dan membuat saya lebih bersyukur. Selain itu, saya juga berkesempatan mengunjungi DisneySea dan Universal Studios Japan dari hasil kerja sendiri, yang jadi pencapaian kecil namun berarti.
Saat jenuh, saya biasanya refresh dengan bersepeda ke tempat-tempat baru. Dari situ, saya sering menemukan pemandangan bagus, bahkan bertemu obaasan dan mengobrol santai. Hal-hal kecil ini membuat saya lebih berani mencoba hal baru. Jika sedang di rumah, saya mengisi waktu dengan memasak atau membuat camilan untuk dinikmati bersama teman. Kebiasaan ini masih terbawa sampai sekarang setelah kembali ke Indonesia.
Selama di Jepang, membagi waktu antara kerja dan belajar jadi hal penting. Untuk memahami pekerjaan, saya sering menggambar ulang tombol mesin di techo, lalu setelah pulang ke apato bertanya ke senpai tentang pengoperasian mesin, termasuk saat mesin berhenti atau ketika terjadi NG. Untuk bahasa Jepang, saya membiasakan belajar pagi dan malam, termasuk menyesuaikan saat shift malam.
Dari pengalaman tersebut, saya memahami sistem kerja di Jepang, seperti pentingnya langsung melapor saat ada masalah dan bertindak cepat. Saya juga belajar bekerja lebih terarah dengan tujuan kecil, menjadi lebih mandiri, terbuka menerima masukan, serta berani bertanya dan menyampaikan pendapat. Hal ini masih saya terapkan saat bekerja di Indonesia. Pekerjaan jadi lebih terstruktur karena terbiasa menentukan prioritas. Saya juga menerapkan hourensou, termasuk kakunin kepada atasan, serta langsung melapor jika ada NG. Selain itu, saya lebih rapi, bisa mengatur waktu, dan terus melakukan kaizen.
Sebelum pulang ke Indonesia, saya menyiapkan diri terutama dari segi mental, tidak mudah mengeluh, tidak takut mencoba, dan tidak ragu bertanya jika belum paham. Saya juga terus belajar bahasa Jepang, termasuk kanji dan kosakata, serta mengikuti ujian JLPT sebagai bekal. Penting juga untuk tetap rendah hati dan punya perencanaan ke depan.
Pengalaman magang ini sangat membantu saat saya kembali ke Indonesia. Alhamdulillah, dengan pengalaman tersebut dan bantuan dari PT JIAEC, saya bisa lebih cepat mendapatkan pekerjaan.
Pesan saya untuk teman-teman trainee di Jepang: jangan boros, mulai menabung atau investasi, sering latihan kaiwa, usahakan punya sertifikat JLPT, dan yang paling penting, berani mencoba hal baru sebagai bekal masa depan.
Narasumber : Irene Elice Arfen
Editor : Ririe Lovina Putri