Asep Setiawan (Extrainee PT JIAEC)
Kesempatan menjalani program magang di Jepang menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi saya. Di tempat kerja, pengalaman yang paling berkesan adalah dapat langsung merasakan atmosfer kerja yang sangat baik. Etos kerja yang disiplin diterapkan dengan kuat, namun suasana kerja tetap terasa menyenangkan. Di luar pekerjaan, saya juga berkesempatan menikmati keindahan pergantian empat musim. Momen melihat bunga sakura mekar di musim semi dan salju pertama di musim dingin menjadi pengalaman magis yang tak terlupakan.
Namun, tentu ada pula tantangan yang harus dihadapi. Salah satunya adalah pertama kali tinggal jauh dari keluarga. Pada awal masa magang, saya juga masih mengalami hambatan dalam berbahasa Jepang. Saat itu, saya termasuk angkatan pertama sehingga belum memiliki senpai yang dapat menjadi tempat bertanya atau meminta arahan. Namun, justru dari berbagai keterbatasan tersebut mental mandiri dan daya tahan saya perlahan terbentuk.
Saat merasa jenuh, saya menyalurkan waktu dengan mengeksplorasi daerah sekitar dan menonton TV Jepang. Saya juga tidak lupa untuk terus belajar bahasa Jepang hingga Alhamdulillah berhasil lulus JLPT N2. Menurut saya, belajar bahasa Jepang tidak harus selalu melalui buku atau kursus. Kehidupan sehari-hari juga dapat menjadi sarana belajar, misalnya melalui kaiwa dengan orang Jepang, menonton TV Jepang, serta memahami tulisan-tulisan Jepang yang ada di lingkungan sekitar.
Selain itu, aktivitas seperti jogging, bersepeda, dan bermain olahraga, salah satunya badminton, juga tidak boleh terlewatkan. Beberapa aktivitas tersebut kemudian menjadi kebiasaan rutin selama menjalani masa magang, hingga saat ini. Kebiasaan yang saya bangun selama di Jepang juga sangat bermanfaat bagi karir setelah kembali ke Indonesia. Terutama kemampuan bahasa Jepang yang sangat diandalkan apabila bekerja di perusahaan Jepang yang ada di Indonesia.
Menjelang kepulangan, saya juga berusaha mempersiapkan diri untuk menghadapi dunia kerja di Indonesia. Dari segi sertifikasi dan kualifikasi, saya memastikan dapat menyelesaikan ujian evaluasi kerja Ginou Jisshuu serta mengantongi sertifikat JLPT N2. Selain itu, saya berusaha menyerap pola pikir dan budaya kerja Jepang seperti 5S (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, Shitsuke), Kaizen, serta Hourenso. Nilai-nilai tersebut menjadi bekal dan nilai tambah yang penting bagi saya. Tidak lupa juga bekal mengelola keuangan dengan bijak agar memiliki modal cukup ketika masa transisi kembali ke tanah air.
Setelah pulang, saya mengikuti proses seleksi untuk masuk ke anak perusahaan Jepang di Indonesia. Prosesnya meliputi interview dan tes masuk kerja lainnya. Dalam proses tersebut, pihak JIAEC turut memberikan dukungan dan mendampingi kami sehingga kami merasa sangat terbantu. Menurut pengalaman saya, peserta magang dari JIAEC memiliki keunggulan, terutama dari segi kemampuan bahasa dan mental kerja. Dukungan yang diberikan pun dirasakan sejak awal proses masuk ke JIAEC, selama menjalani program, hingga mempersiapkan diri dan mencari pekerjaan setelah kembali ke Indonesia.
Bagi teman-teman yang sedang menjalani masa magang di Jepang, jangan hanya membawa pulang tabungan materi. Bawalah juga pulang karakter, keterampilan, dan etos kerja terbaik. Nikmati setiap prosesnya, baik suka maupun duka, karena pengalaman ini adalah investasi hidup yang tidak semua orang berkesempatan untuk mencapainya. Tetap semangat, jaga kesehatan, dan persiapkan masa depan karier kalian sejak hari ini!
Narasumber : Asep Setiawan
Editor : Ririe Lovina